KapanLagi.com – Walau tak lagi tergolong hal baru, teknologi CDMA ternyata masih membingungkan bagi sebagian orang. Maklum saja, belum tuntas para pengguna ponsel menikmati layanan GSM, kini disuguhi dengan teknologi komunikasi yang lain.

Teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) pada awalnya diaplikasikan pada telepon seluler digital yang dikembangkan oleh Qualcomm, Inc, San Diego, CA, dan kemudian penggunaannya meluas di seluruh Amerika Utara. Beroperasi pada frekuensi 800 MHz dan 1900 MHz, konektivitas ponsel berteknologi CDMA cukup bisa diunggulkan, disamping daya simpan baterai yang lebih tahan lama.

Pemakaian SIM Card pada ponsel CDMA, bisa dipasang langsung pada ponsel, seperti layaknya pada GSM, ataupun di-‘injek’-an. Untuk injeksi, pengguna harus menghubungi operator layanan CDMA, untuk kemudian nomor SIM Card tersebut akan ‘ditanamkan’ ke dalam ponsel.

Ditengah semakin maraknya operator CDMA di Indonesia, berikut ini beberapa hal mendasar yang sebaiknya diketahui saat hendak membeli ponsel CDMA.

1. Jaringan yang digunakan oleh operator

Faktor jaringan cukup erat kaitannya dengan frekuensi dan jenis layanan CDMA, karena di Indonesia diberlakukan sistem pembagian frekuensi, sehingga tiap wilayah mempunyai frekuensi yang bisa sangat berbeda.

Beberapa operator jaringan CDMA di Indonesia adalah PT Telkom (TelkomFlexi), PT Bakrie Telecom (Esia), PT Mobile-8 Telecom (Fren), PT Mandara Seluler Indonesia (Neo_n) dan PT Indosat (StarOne).

Khusus untuk Neo_n bekerja pada frekuensi 450 MHz, sedangkan keempat operator yang lain beroperasi pada frekuensi 800 MHz ataupun 1900 MHz. Sedangkan Fren hanya beroperasi pada frekuensi 800 MHz saja.

Untuk TelkomFlexi, Esia dan StarOne, mempunyai ijin fixed wireless, yaitu jaringan telepon tetap tanpa kabel. Maksudnya, jaringan telepon tersebut dibatasi pada satu area saja, jika pengguna keluar dari area maka jaringan dipastikan tak bisa diakses. Sedangkan Fren, mempunyai ijin seluler yang memiliki fitur roaming atau daya jelajah seperti halnya pada operator GSM. Sehingga anda bisa menggunakan ponsel tersebut untuk berkomunikasi di manapun selama jaringan dari operator tersebut ada.

Samsung CDMA

Selanjutnya, hal lain yang perlu diperhatikan adalah apakah ponsel CDMA tersebut menggunakan single band (800 MHz) atau dual band (800 MHz dan 1900 MHz). Bila di Surabaya, ponsel harus bisa beroperasi di frekuensi 800 MHz, lain halnya dengan Jakarta yang mengharuskan ponsel juga mampu beroperasi pada frekuensi 1900 MHz. Sehingga, pilihan ponsel CDMA dual band, yang mampu beroperasi pada frekuensi 800 MHz maupun 1900 MHz sangatlah tepat.

2. Model injeksi atau slot SIM Card

Pemilihan ponsel CDMA yang memiliki slot SIM Card ataupun tidak, juga perlu diperhatikan. Untuk ponsel yang memiliki slot SIM Card, kita tinggal memasang SIM Card pada slot yang tersedia, sebelum mengoperasikan layanan jaringan tersebut. Sedangkan untuk ponsel yang tak memiliki slot, kita perlu menghubungi operator layanan jaringan CDMA agar SIM Card kita itu ‘ditanamkan’ ke dalam ponsel, sebelum bisa menikmati layanannya

Sehingga bagi anda yang sering bergonta-ganti nomor atau SIM Card, dianjurkan sebaiknya menggunakan ponsel yang memiliki slot SIM Card, untuk memudahkan pemakaian dan tak ribet karena harus bolak-balik menghubungi operator layanan.

3. Kemampuan akses data

Teknologi CDMA juga memiliki fasilitas akses data, seperti layanan koneksi internet, e-mail dan MMS. Sehingga bagi para pengguna GSM yang sering menggunakan layanan tersebut dan ingin bermigrasi ke CDMA, tak lagi perlu khawatir mereka tak bisa lagi menikmati layanan tersebut. Mereka tinggal memilih ponsel yang mendukung layanan tersebut.

Jadi, sebelum membeli ponsel CDMA sebaiknya kenali dulu spesifikasi dan karakteristik perangkat tersebut. Bila anda ragu, sebaiknya tanyakan dulu pada operator CDMA yang bersangkutan, sehingga tak ada kata kecewa setelah terjadinya transaksi. (kpl/Bun)